Aksi Unjuk Rasa Jilid II Burasa: Suara Buruh dan Pekerja Harus Didengar
Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa (Burasa) akan menggelar aksi unjuk rasa jilid II sebagai respons terhadap ketidakadilan yang dialami oleh buruh dan pekerja. Mereka juga menyoroti sikap abai Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) yang tidak hadir dalam aksi tuntutan pada hari buruh internasional (May Day) yang berlangsung pekan lalu.
Pada konferensi pers di Sekretariat Yayasan Tanah Merdeka (YTM) di Kota Palu, Koordinator Lapangan Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa, Muhammad Agung Fajar, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan konsolidasi internal untuk persiapan aksi tersebut.
Tuntutan Aksi Jilid II
Anggota dari Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSIPM) menegaskan bahwa jumlah massa yang akan turut serta dalam aksi kali ini diperkirakan akan lebih besar daripada aksi sebelumnya. Mereka tetap menuntut isu-isu yang sama seperti keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hak maternitas, pelecehan terhadap buruh perempuan, hak cuti, upah, dan persoalan ketenagakerjaan lainnya.
Menghadapi Keengganan Pemerintah
Manajer Kampanye YTM, Mohammad Azis, mengungkapkan bahwa pihaknya menolak upaya komunikasi yang difasilitasi oleh pihak kepolisian karena hanya enam orang yang diminta hadir, sementara Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa terdiri dari banyak organisasi. Hingga saat ini, belum ada satu pun dari puluhan tuntutan yang benar-benar direalisasikan.
Permasalahan seperti outsourcing dan PHK di sejumlah perusahaan di kawasan IMIP masih belum mendapatkan tindak lanjut yang jelas dari pihak manajemen perusahaan maupun pemerintah daerah setempat dan provinsi. Hal ini menunjukkan ketidakseriusan Gubernur dalam menangani masalah ketenagakerjaan di Sulteng.
Menuntut Kepedulian Gubernur
Ketum FSPIM, Komang Jordi, mengekspresikan kekecewaannya terhadap ketidaksediaan Gubernur mendengar langsung berbagai persoalan yang dihadapi oleh buruh dan pekerja. Meskipun sebelumnya Gubernur menunjukkan perhatian khusus terhadap buruh, kenyataannya masih banyak pelanggaran hak-hak pekerja yang terjadi.
Dengan adanya rencana mobilitasi buruh dari Morowali ke Palu, pihak Burasa ingin menekankan agar Gubernur memberikan perhatian serius terhadap tuntutan mereka. Situasi perburuhan di Sulteng dinilai belum mendapatkan keseriusan yang seharusnya, dan aksi unjuk rasa jilid II ini menjadi salah satu bentuk protes mereka terhadap pengabaian ini.


