Bima Arya Ungkap Tantangan Indonesia Menuju Negara Maju

Bima Arya Soroti Satu Pekerjaan Rumah Besar Indonesia Menuju Negara Maju

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menilai tantangan paling mendasar dalam perjalanan Indonesia menjadi negara maju bukan semata soal pertumbuhan ekonomi, melainkan soal kesinambungan arah bangsa. Ia menyebut, tanpa visi nasional yang konsisten, Indonesia akan sulit mengejar negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan sejumlah negara maju di Asia Timur.

Pesan itu disampaikan Bima saat menjadi keynote speaker dalam Talkshow Kompetisi Ekonomi (KOMPeK) ke-28 yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia. Di forum itu, ia menegaskan bahwa Indonesia sedang berada pada titik penting: peluang besar masih terbuka dalam 20 tahun ke depan, tetapi ancaman terjebak di kelompok negara berpendapatan menengah juga masih nyata.

Visi Nasional Jadi Penentu Arah

Menurut Bima, negara yang berhasil naik kelas ke status maju umumnya memiliki pegangan yang kuat pada visi jangka panjang. Visi itu tidak berubah setiap kali terjadi pergantian pemimpin, melainkan dijaga agar tetap menjadi fondasi kebijakan nasional. Dari sudut pandangnya, inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia.

Ia menyebut, Indonesia membutuhkan konsistensi agar setiap pemerintahan berikutnya tetap berjalan di jalur yang sama. Dengan begitu, target besar yang ingin dicapai tidak mudah bergeser oleh perubahan politik atau kepentingan jangka pendek.

Tiga Syarat yang Dinilai Krusial

Bima juga memaparkan tiga syarat utama yang menurutnya harus dipenuhi Indonesia jika ingin benar-benar menjadi negara maju. Pertama, visi nasional yang konsisten. Kedua, kemandirian ekonomi. Ketiga, kepemimpinan yang efektif di semua level pemerintahan.

Selain tiga hal tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi dalam pembangunan. Tanpa kerja bersama lintas sektor dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan, upaya mempercepat kemajuan dinilai akan sulit berjalan maksimal.

Jangan Ada yang Tertinggal

Dalam penjelasannya, Bima juga menggarisbawahi bahwa pembangunan menuju negara maju tidak boleh meninggalkan kelompok masyarakat tertentu. Prinsip “tidak ada warga yang tertinggal” harus dijaga agar kemajuan tidak hanya dinikmati segelintir pihak.

Ia menambahkan, partisipasi masyarakat yang kuat dan pembangunan berkelanjutan menjadi bagian penting dari visi jangka panjang tersebut. Dengan fondasi itu, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah dan bergerak menuju status negara maju.

Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah saat ini, kata Bima, telah menunjukkan komitmen untuk membawa Indonesia melewati tantangan itu. Sejumlah lembaga kredibel seperti World Bank, The Economist, dan Goldman Sachs juga disebut memberi perhatian terhadap peluang Indonesia dalam jangka panjang.

Bima mengingatkan, hanya sedikit negara yang berhasil naik kelas menjadi negara maju. Sebagian besar justru berhenti di tengah jalan. Karena itu, ia menilai Indonesia perlu menjaga determinasi, konsistensi arah, dan ketahanan kebijakan agar peluang yang ada tidak terbuang begitu saja.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Berita POpuler

Berita Terkait