Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong rumah sakit (RS) pendidikan tidak berhenti sebagai tempat layanan kesehatan dan pendidikan klinis. Menurut dia, RS pendidikan harus menjadi pusat yang menghubungkan pelayanan, riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat.
Dalam keterangan yang disampaikan di Jakarta, Senin (14/9/2026), Fauzan menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai biaya pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sepanjang 2025. Nilainya mencapai Rp108 triliun, dengan claims ratio berada di atas 100 persen.
Ia mengatakan lebih dari seperempat dana tersebut digunakan untuk membiayai penyakit katastropik yang sebagian besar sebenarnya dapat dicegah. Kondisi itu, menurut Fauzan, menegaskan perlunya kontribusi lebih besar dari RS pendidikan dalam mencari solusi kesehatan, bukan sekadar menerima dan merawat pasien.
RS pendidikan diarahkan menjadi ekosistem kesehatan akademik
Fauzan meminta transformasi dari konsep teaching hospital menuju academic health ecosystem. Dalam model tersebut, fungsi pendidikan, pelayanan, penelitian, dan inovasi tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dalam satu ekosistem.
“Rumah sakit pendidikan memerlukan transformasi supaya menjadi pusat keunggulan akademik, pusat riset yang hasilnya sampai ke pasien, pusat pengembangan teknologi dan sumber daya manusia kesehatan, sekaligus pusat pelayanan bermutu yang mampu berdiri secara profesional, berkelanjutan, dan humanis,” ujar Fauzan.
Ia juga menilai kemandirian perlu menjadi bagian dari perubahan tersebut. RS pendidikan didorong membangun sumber nilai melalui layanan unggulan, kegiatan riset, pengembangan teknologi, dan pendidikan berkelanjutan. Namun, upaya itu tetap harus berjalan tanpa menghilangkan fungsi sosial rumah sakit.
Selain menyediakan layanan, RS pendidikan diharapkan menjadi “laboratorium hidup”. Berbagai persoalan yang ditemukan dalam pelayanan dapat dikembangkan menjadi bahan riset, lalu dikembalikan kepada pasien dalam bentuk teknologi, produk, atau model layanan yang lebih baik.
Perluasan program spesialis melibatkan ratusan rumah sakit
Fauzan menggambarkan kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri sebagai fondasi inovasi kesehatan. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan, rumah sakit memahami persoalan klinis, sedangkan industri memiliki kemampuan produksi.
“Kalau tiga ini kita satukan, kita punya functional innovation. Maka rumah sakit pendidikan jangan lagi hanya bertanya berapa anggaran yang diberikan kepada kita, tapi harus mulai bertanya berapa nilai yang bisa kita ciptakan,” katanya.
Sejalan dengan arah tersebut, Kemdiktisaintek telah meningkatkan jumlah program studi spesialis dan subspesialis dari 366 menjadi 526 dalam satu tahun terakhir. Pengembangan itu melibatkan sekitar 350 rumah sakit mitra.
Perluasan akses pendidikan dokter spesialis juga mulai menjangkau daerah yang sebelumnya belum memiliki program studi tersebut. Sebanyak 11 provinsi kini mulai membuka program studi spesialis, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua.


