Jakarta — Narasi mengenai potensi kekacauan negara dalam beberapa bulan ke depan dinilai tidak sepatutnya disampaikan tanpa dasar yang kuat. Pengamat politik sekaligus Founder Literasi Politik Indonesia, Ujang Komarudin, mengingatkan bahwa pernyataan semacam itu bisa memicu keresahan publik dan mengganggu persepsi terhadap kondisi nasional yang saat ini dinilai masih stabil.
Menurut Ujang, wacana mengenai prediksi kekacauan yang dikaitkan dengan periode Juli-Agustus 2026 perlu disikapi secara hati-hati. Ia menegaskan, narasi yang tidak didukung fakta justru dapat memperlemah rasa aman masyarakat dan memengaruhi keamanan sosial di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian.
“Jangan sampai negara yang stabil ini, negara yang aman ini justru dikomentari atau ditakuti-takuti dengan tuduhan-tuduhan soal potensi chaos Juli dan Agustus seperti itu,” kata Ujang di Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Di tengah tekanan internasional, mulai dari gejolak geopolitik hingga isu energi, Ujang menilai kondisi Indonesia masih relatif baik dibandingkan sejumlah negara lain. Penilaian tersebut, menurut dia, tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang sejauh ini dinilai mampu menjaga ritme ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat tetap berjalan normal.
Stabilitas Ekonomi Indonesia Masih Terjaga
Sejumlah indikator resmi menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia hingga awal 2026 masih berada dalam kondisi yang relatif terjaga. Berdasarkan data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen dan meningkat menjadi sekitar 4,76 persen pada Februari 2026.
Meski mengalami kenaikan, angka tersebut masih dinilai berada dalam batas yang terkendali jika dibandingkan dengan tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. Dari sisi pertumbuhan, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 dilaporkan tumbuh sebesar 5,11 persen, sebuah capaian yang memperlihatkan daya tahan ekonomi nasional di tengah tantangan eksternal.
Selain itu, Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2025 juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Proyeksi itu didorong oleh kesinambungan kebijakan fiskal dan moneter yang diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan serta kestabilan harga.
“Di tengah kelangkaan BBM di dunia, Indonesia hari ini masih nyaman, terkendali, dan masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa,” ujar Ujang.
Pernyataan itu memperkuat pandangan bahwa kondisi nasional tidak bisa hanya diukur dari spekulasi yang beredar di ruang publik. Dalam konteks ini, kebijakan stabil yang dijalankan pemerintah dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap bergerak.
Narasi Publik Perlu Dijaga agar Tidak Menimbulkan Keresahan
Ujang menilai, di tengah ketidakpastian global, semua pihak seharusnya lebih berhati-hati dalam membangun narasi di ruang publik. Sebab, isu yang berkembang tanpa pijakan data dapat memengaruhi psikologis masyarakat dan menimbulkan keresahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Ia menekankan bahwa stabilitas nasional tidak hanya bergantung pada indikator makroekonomi, tetapi juga pada cara publik memahami kondisi negara. Karena itu, penyampaian pendapat sebaiknya berbasis fakta dan tidak mendorong opini liar yang bisa menurunkan kepercayaan terhadap institusi.
Hingga saat ini, indikator ekonomi utama masih menunjukkan kondisi yang terkendali. Dalam beberapa kesempatan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga sering tercermin dalam berbagai survei kepuasan publik, yang menilai respons negara terhadap tantangan ekonomi, energi, dan stabilitas sosial.
Sejumlah tokoh nasional, termasuk Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, juga pernah menekankan pentingnya menjaga stabilitas nasional sebagai fondasi utama pembangunan. Stabilitas, dalam konteks itu, bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga menyangkut ketenangan masyarakat dan keberlanjutan kebijakan negara.
Pemerintah Tegaskan Indonesia Tetap Terkendali
Sementara itu, Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya membantah tegas isu yang menyebut Indonesia akan mengalami chaos atau kekacauan dalam waktu dekat. Menurut dia, anggapan tersebut merupakan narasi yang keliru dan tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
“Saya mau luruskan beberapa isu, tadi ada pertanyaan. Jadi beberapa waktu lalu sempat ada isu yang menyampaikan bahwa dalam waktu dekat Indonesia akan chaos. Itu adalah narasi yang keliru,” ujar Teddy kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Teddy menegaskan, Indonesia saat ini masih berada dalam situasi yang terkendali meskipun dunia sedang menghadapi konflik global dan tekanan dari kawasan Timur Tengah. Salah satu indikator yang ia sebut ialah tidak adanya kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi ketika banyak negara lain justru mengambil langkah sebaliknya.
“Tidak ada itu chaos-chaos. Yang ada adalah semuanya terkendali. Buktinya apa? Satu, di tengah konflik global dan dampak di Timur Tengah, banyak negara menaikkan harga BBM, tetapi Presiden Prabowo memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi sama sekali,” ucapnya.
Menurut Teddy, keputusan tersebut merupakan bentuk nyata kebijakan pemerintah yang berorientasi pada perlindungan masyarakat, menjaga daya beli, dan menahan dampak gejolak global agar tidak langsung membebani publik.
Ia menambahkan, kondisi yang tetap kondusif juga menunjukkan bahwa negara masih mampu menjaga keseimbangan antara respons ekonomi dan stabilitas sosial. Karena itu, narasi yang menyebut Indonesia berada di ambang kekacauan dinilai tidak sejalan dengan fakta yang ada.
“Itu fakta. Anda bisa lihat sendiri di negara tetangga dan negara sekitar,” sambung Teddy.
Penegakan Hukum dan Stabilitas Sosial Jadi Kunci
Selain faktor ekonomi, pemerintah juga terus menekankan pentingnya penegakan hukum dan penguatan institusi negara sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nasional. Upaya tersebut dinilai penting agar ruang publik tidak dipenuhi spekulasi yang berpotensi memicu kegaduhan sosial.
Perkembangan kondisi ekonomi dan sosial memang tetap perlu dipantau secara berkala, terutama di tengah dinamika global yang cepat berubah. Namun hingga saat ini, berbagai indikator utama masih memperlihatkan bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang relatif aman, terkendali, dan tetap berjalan stabil.
Dengan demikian, narasi tentang potensi kekacauan seharusnya dibangun berdasarkan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa dasar yang jelas, isu semacam itu justru berisiko menyesatkan opini publik di saat negara sedang berupaya menjaga stabilitas di berbagai sektor.
Sumber Resmi: Narasi Kekacauan Negara Dinilai Tanpa Dasar, Ekonomi Indonesia Tetap Stabil dan Terkendali


