Peluang Bisnis Menjanjikan di Kawasan IMIP
Di Morowali, Sulawesi Tengah, geliat ekonomi tidak hanya terlihat dari aktivitas industri besar, tetapi juga dari tumbuhnya usaha-usaha kecil yang ikut mengambil peran. Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) telah menjadi magnet bagi ribuan pekerja dan pendatang, sekaligus membuka ruang baru bagi masyarakat sekitar untuk membangun bisnis yang menopang kebutuhan harian para penghuni kawasan. Berdasarkan data Departemen HR PT IMIP pada September 2025, jumlah pekerja di kawasan itu mencapai 86.804 orang.
Bisnis kecil yang tumbuh dari kebutuhan nyata
Arus pekerja yang besar membuat permintaan terhadap makanan, penginapan, dan jasa pendukung terus meningkat. Situasi inilah yang dimanfaatkan sejumlah warga dengan cara yang sederhana namun tepat sasaran. Mereka membaca peluang dari kebutuhan dasar para pekerja dan pendatang, lalu mengubahnya menjadi usaha yang berkelanjutan. Di sekitar Bahodopi, usaha-usaha semacam ini berkembang seiring pertumbuhan kawasan industri dan mobilitas orang yang semakin tinggi.
Kasmir, dari hobi memasak ke rumah makan yang berkembang
Salah satu kisah yang menonjol datang dari Kasmir, pemuda asal Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kecintaannya pada dunia masak sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Dari ketertarikan itu, ia kemudian merintis rumah makan “Rica” di Keurea, Kecamatan Bahodopi. Sebelum benar-benar fokus membangun usaha sendiri, Kasmir sempat bekerja sebagai karyawan di IMIP sambil menjalankan katering dan berjualan kue-kue. Bersama rekannya, ia juga membuka kios oleh-oleh di Dusun Tabo, Desa Labota, untuk mengumpulkan modal awal.
Rumah makan Rica kini menjadi salah satu UMKM yang ikut merasakan dampak positif dari pertumbuhan kawasan industri. Berbekal latar belakang Teknik Industri, Kasmir mengelola usahanya dengan rapi dan terukur. Ia memanfaatkan ketersediaan bahan baku ikan cakalang di Bahodopi untuk menyajikan menu andalan seperti rica cakalang, udang, dan daging sapi. Usaha ini telah mempekerjakan empat karyawan dan mencatat omzet lebih dari Rp50 juta per bulan.
Penginapan jadi jawaban atas kebutuhan pendatang
Di sisi lain, peluang bisnis juga terbuka di sektor hunian sementara. Kadar Usman, warga Desa One Ete, Kecamatan Bungku Pesisir, melihat kebutuhan itu lebih awal. Saat pendatang mulai berdatangan ke Bahodopi, ia memilih membangun penginapan sebagai respons terhadap permintaan tempat tinggal yang terus meningkat. Modal yang ia gunakan berasal dari hasil penjualan kendaraan pribadi dan pinjaman bank.
Penginapan pertamanya dibangun di Desa Keurea, lalu berkembang menjadi usaha yang lebih besar. Kini, SKP memiliki tiga cabang di Keurea dan Kecamatan Bungku Pesisir dengan lebih dari 100 kamar. Setiap malam, rata-rata 30 hingga 40 kamar terisi, menunjukkan bahwa kebutuhan akomodasi di kawasan tersebut masih sangat tinggi dan terus berputar seiring aktivitas industri.
Ekosistem UMKM ikut bergerak
Perkembangan para pelaku usaha di sekitar IMIP menunjukkan bahwa kawasan industri tidak hanya menciptakan lapangan kerja formal, tetapi juga memunculkan rantai ekonomi turunan yang memberi ruang bagi warga lokal. HIPMI Morowali turut mendorong penguatan ekosistem ini melalui program pendampingan dan fasilitasi usaha. Kolaborasi dengan sejumlah perusahaan tenant di IMIP juga menjadi bagian dari upaya memperluas dukungan bagi UMKM.
Dengan dorongan seperti ini, para calon pengusaha muda di Morowali memiliki peluang yang lebih besar untuk tumbuh. Kisah Kasmir dan Kadar Usman memperlihatkan bahwa bisnis yang lahir dari kebutuhan sekitar, jika dikelola dengan tepat, bisa berkembang menjadi sumber penghidupan yang stabil dan memberi dampak langsung bagi ekonomi daerah.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.


