Lapas Luwuk Kembangkan Program Keterampilan bagi Warga Binaan
Di Lapas Kelas IIB Luwuk, Sulawesi Tengah, program pembinaan kemandirian kembali diperkuat dengan cara unik. Kali ini, warga binaan pemasyarakatan (WBP) dilatih untuk mengolah limbah plastik menjadi bunga sintetis bernilai ekonomis. Hal ini bertujuan untuk memberikan bekal keterampilan yang berguna bagi mereka setelah bebas nanti.
Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Bunga Sintetis
Area bimbingan kerja Lapas Luwuk menjadi tempat pelaksanaan program ini. Berbagai jenis limbah plastik bekas yang tadinya tidak memiliki nilai guna kini diolah menjadi bunga sintetis menarik. WBP dibimbing dalam proses pemilahan bahan, pembentukan kelopak bunga, pewarnaan, hingga perakitan menjadi bunga siap jual.
Selain manfaat lingkungan dalam mengurangi sampah plastik, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi WBP. Hasil karya mereka memiliki nilai jual dan potensi untuk dipasarkan kepada masyarakat luas.
Pembentukan Karakter dan Produktivitas
Pelaksana Harian Kepala Lapas Luwuk, Andi Abdul Muis, menegaskan bahwa pembinaan di lapas tidak hanya sebatas pada pembentukan karakter, tapi juga meningkatkan kompetensi dan produktivitas. Program pembinaan kemandirian ini memberikan warga binaan kesempatan untuk belajar berkreasi, berwirausaha, serta memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui konsep daur ulang yang bernilai ekonomis.
Dengan berbagai kegiatan positif yang dihadirkan, Lapas Luwuk terus berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia warga binaan. Hal ini juga diapresiasi oleh Pelaksana Harian Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Maulana Luthfianto, sebagai langkah nyata dalam pemberdayaan WBP.
Program ini diharapkan dapat menciptakan WBP yang mandiri, produktif, dan siap berkontribusi positif di masyarakat setelah bebas. Selain itu, menjadi bekal bagi mereka untuk membangun kemandirian ekonomi dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.


