MILAN – Legenda AC Milan, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun dan meninggalkan sebuah warisan yang tak terlupakan. Gaya bertahan khasnya menjadi sorotan, terlebih di tengah dominasi bek modern dalam dunia sepak bola saat ini.
Peran Libero Klasik Franco Baresi
Franco Baresi dikenal sebagai seorang libero klasik yang tidak hanya berperan sebagai penyapu terakhir di pertahanan, tetapi juga sebagai pengatur pertahanan, pengendali garis belakang, serta otak dari tim. Kemampuan membaca permainan, antisipasi, dan kepemimpinan di lapangan menjadi kunci kesuksesannya, bukan sekadar fisik atau kecepatan semata.
Dengan tinggi badan 176 sentimeter, Baresi membuktikan bahwa kecerdasan taktis bisa menjadi faktor utama bagi seorang bek untuk bersinar di level tertinggi.
Evosi Peran Bek Tengah Modern
Dalam perkembangan taktik sepak bola saat ini, peran bek tengah mengalami evolusi yang signifikan. Bek tidak hanya dituntut untuk menghentikan serangan lawan, tetapi juga harus aktif dalam membangun serangan dari lini belakang. Konsep ball-playing center back menjadi krusial dalam permainan saat ini.
Selain kemampuan mengolah bola, bek modern juga harus memiliki kecepatan, kelincahan, dan kekuatan fisik yang lebih tinggi. Tugas kreatif yang dulunya menjadi milik gelandang kini juga diemban oleh bek modern.
Peran Libero dalam Perkembangan Permainan
Meskipun peran libero klasik semakin jarang digunakan dalam sepak bola modern, ada argumen yang mengatakan bahwa perannya telah berevolusi menjadi ball-playing defender. Bek modern seperti Virgil van Dijk, Sergio Ramos, Rúben Dias, hingga Leonardo Bonucci merupakan contoh bek yang menggabungkan kemampuan bertahan dengan distribusi bola.
Jika Baresi lebih fokus pada antisipasi dan kepemimpinan, bek modern menekankan pada fisik dan kontribusi dalam serangan. Meskipun begitu, warisan Franco Baresi tetap hidup dalam gagasan bahwa seorang bek harus menjadi pemimpin taktis di lapangan.


