Prof Lukman: Idul Fitri dan Rekonsiliasi Batin

Prof Lukman: Idul Fitri dan Rekonsiliasi Batin

Idul Fitri tak hanya dipahami sebagai momen saling memaafkan dengan orang lain, tetapi juga sebagai kesempatan untuk bereskan pertarungan yang kerap terjadi di dalam diri. Pesan itulah yang disampaikan Profesor Lukman Thahir, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama, saat mengajak umat Islam menjadikan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2026 sebagai ruang rekonsiliasi batin setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan.

Ajakan berdamai dengan diri sendiri

Dalam pandangannya, banyak orang sibuk memenuhi tuntutan sosial untuk tampak rukun dengan sesama, namun diam-diam masih menyimpan kegelisahan, penyesalan, atau pertentangan dalam diri sendiri. Karena itu, ia menekankan bahwa rekonsiliasi batin menjadi langkah penting untuk meredam ego sekaligus menguatkan spiritualitas agar manusia benar-benar kembali ke fitrah.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam khutbah Idul Fitri di Masjid Al-Abrar, Kota Palu, dengan tema “Idul Fitri dan Saatnya Berdamai Dengan Diri Sendiri”. Menurut Lukman, kemampuan menerima diri sendiri akan membuat seseorang lebih mudah bersyukur atas apa yang dimiliki, alih-alih terus merasa kurang atau tidak cukup.

Tiga langkah merawat ketenangan batin

Profesor Lukman juga mengingatkan bahwa terus-menerus melawan diri sendiri, membandingkan hidup dengan orang lain, atau larut dalam penyesalan masa lalu hanya akan menambah beban mental. Sikap seperti itu, kata dia, membuat seseorang sulit merasakan kedamaian yang seharusnya lahir setelah Ramadhan.

Ia menyebut ada tiga langkah penting untuk belajar berdamai dengan diri sendiri pada momen Idul Fitri. Pertama, menerima kekurangan dan kesalahan sebagai bagian dari pelajaran hidup. Kedua, berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Ketiga, memaafkan diri sendiri sebagai bagian dari proses rekonsiliasi batin yang sehat dan jujur.

Bersyukur sebagai jalan pulang

Dalam pesannya, Lukman menegaskan bahwa rasa syukur adalah kunci agar seseorang tidak terjebak dalam kegelisahan yang tak perlu. Dengan hati yang lebih tenang dan sikap yang lebih menerima, Idul Fitri dapat menjadi titik balik untuk menjalani hidup dengan lebih damai, tanpa terus dibebani perang batin yang melelahkan.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Berita POpuler

Berita Terkait